Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2013

Dino-Boy, sebuah dolanan anak tempo doeloe yang syarat dengan makna dan penuh manfaat

Dino-Boy merupakan sebuah permainan tempo dulu yang mempunyai banyak manfaat untuk anak dimasa pertumbuhan.

Kita semua pasti pernah mengalami masa anak - anak, karena memang manusia memiliki fase - fase pertumbuhan dari lahir, bayi, balita, anak-anak, remaja dan seterusnya.
Pada waktu dahulu, dimasa anak - anak, tentunya kita semua mempunyai segudang permainan yang sangat asyik sekali dan seolah tidak pernah bosan untuk selalu diulang memainkannya bersama teman sebaya. Salah satu permainan tempo dulu yang terdapat di kota kretek, Kudus Jawa Tengah yakni Permainan Dino-Boy.
Asli permainan dari desa Kedungdowo, karena memang saya mengenal memainkannya ketika saya berumur 6 tahun di desa tersebut, setahu saya pribadi, tidak tahu sumber aslinya dari mana, saya memainkan sekitar tahun 1996.
Dan pada kesempatan kali ini, saya mengajak murid - murid saya di MI NU Islamiyah untuk mengenal dan memainkannya, maklum saat ini budaya barat sudah merambah ke pedesaan, dan menggerus permainan - permainan anak asli Indonesia, salah satunya Dino-Boy ini. Berikut cara-caranya:
  1. Gambarlah lingkaran berdiameter sekitar 30 cm, kemudian isi dengan 7 - 9 tumpukan pecahan genting dari ukuran yang paling lebar di paling bawah sampai ukuruan yang terkecil di taruh teratas.
  2.  Sekitar jarak 8 sampai 10 meter dari lingkaran tersebut buatlah garis lurus melintang.
  3. Siapkan bola kasti sebagai alat untuk menghantam.
  4. Tentukan arah pijakan bersama teman - teman minimal 4 arah dan maksimal 6 arah.
  5. Setelah semua disiapkan kita mulai permainan ini dengan langkah - langkah sebagai berikut:
  • Hompimpah atau kalau dalam bahasa kota Kudus 'HOM-JE' atau ada juga 'JOON-TIT', menentukan siapa yang menjaga lingkaran yang berisi tumpukan beling tersebut.
  • Jika sudah mendapat PENJAGA, maka yang lain berdiri dibelakang garis lurus, disebut sebagai PELEMPAR, dan PENJAGA berdiri disamping lingkaran.
  • Satu persatu secara bergiliran PELEMPAR menghantam tumpukan pecahan genting tersebut.
  • Jika dari  PELEMPAR ada yang mengenai tumpukan tersebut dan mengakibatkan tumpukan tersebut terjatuh walaupun cuma satu pecahan genting saja, maka seluruh PELEMPAR harus cepat berlari menuju arah pijakan pertama, kedua dan seterusnya secara berurutan, sedangkan PENJAGA harus cepat - cepat menyusun kembali tumpukan pecahan genting yang terkena bola kasti tadi tadi.


  •  Setelah tersusun, PENJAGA harus cepat mengambil bola kasti, kemudian mengejar PELEMPAR yang tidak memegang arah pijakan atau di luar garis lintang.


  • Bagi PELEMPAR yang terkena bola kasti dari PENJAGA, maka dia yang mendapat hukuman menggantikan temannya sebagai PENJAGA.
Berikut vidoe amatirnya:


Makna yang terkandung dalam permainan Dino-Boy:

  1. Menumbuhkan sikap percaya diri
  2. Belajar kerja cerdas dan kerja keras
  3. Jangan putus asa
  4. Membangun jiwa kepemimpinan
  5. Meningkatkan Communicative Approach dalam fase pertumbuhan anak
  6. Dan masih banyak lagi.

Manfaat yang terkandung dalam permainan Dino-Boy:

  1. Kesehatan jasmani
  2. Kefokusan indra
  3. Ketahanan tubuh
  4. Stimulasi penyeimbangan otak kiri dan kanan
  5. Refreshing
  6. DLL
Nah... itulah salah satu permainan tempo doeloe yang telah di praktekkan oleh murid - muridku di MI NU Islamiyah Gamong Kudus, mereka sangat senang. Dan semoga threat ini bermanfaat.

Salam,
Charis Rohman

Jumat, 13 September 2013

PAHLAWAN


Apakah pahlawan itu? Bagi anak – anak, pahlawan adalah super hero yang mempunyai kekuatan super bertugas membasmi kejahatan. 
Siapakah pahlawan itu? Bagi anak – anak, pahlawan adalah yang sering mereka temui dan tonton di TV setiap jam pagi maupun sore, dialah Superman, Spiderman, Batman dan yang lainnya. 
Jika jamnya telah tiba, secara otomatis bahkan tanpa diperintahpun, mereka langsung menyalakan televisi dan secara khusu’ menonton ‘pahlawannya’ yang sedang beraksi di saluran TV tertentu. Babak demi babak aksi Spiderman, Superman dan Batman, mereka ikuti dengan seksama dan tanpa mereka sadari waktu dihabiskan hanya untuk itu saja. 
Bahkan sekarang banyak anak – anak yang berusaha menjadi seperti ‘pahlawan’ nya, mereka bermain visual ‘perang – perangan’ di media play station sampai berjam – jam dan lagi – lagi tanpa sadar mereka telah mengabaikan kewajibannya sehari – hari. 
Ironisnya lagi, banyak anak – anak sering ‘curhat dan mendatangi’ pahlawannya yaitu tayangan di televisi tersebut setiap mereka bingung dalam suatu masalah atau penat menghadapi tugas – tugas dari pelajaran – pelajaran di sekolahnya. Mereka sudah menganggap tontonan Spongsbob Square Pan, Tom and Jerry, Batman dan yang lainnya itu adalah ‘pahlawannya’, seolah – olah ‘pahlawannya’ itu yang paling mengerti masalah – masalah dan perasaan mereka, sampai setiap hari dan setiap waktu ingin selalu bersamanya.
Disamping itu, seorang bapak yang setiap hari bekerja baik sebagai buruh tani sampai direksi, atau bahkan ibunya yang menjadi buruh di perusahaan – perusahaan, mencari nafkah dan mengais rizki untuk menghidupi anak – anak dan keluarganya, setiap hari mereka berangkat bekerja, setiap hari para ibu – ibu memasak untuk anak – anaknya, mereka yang tanpa mengenal lelah menggendong, menuntun dan menyuaipi anak – anaknya sampai besar, mereka yang tanpa pamrih mengajari anak – anaknya mengenal bahasa ibu sampai fasih mengeja dan membaca suatu bahasa, mereka yang dengan sabar menjawab pertanyaan – pertanyaan dalam keingintahuan anak – anaknya. 
Bahkan dengan keikhlasannya, mereka tak pernah menuntut balas budi apapun kepada anak – anaknya atas semua jasa – jasa yang telah mereka berikan kepada anak – anaknya selama ini, sekalipun anak – anaknya menjadi orang berpangkat dan berhartapun. Kasih ibu kepada beta, tak terkira sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. 
Pengartian anak – anak tentang sosok pahlawan bagi kehidupan mereka kali ini sudah tidak benar lagi, pelarian imajinasi tentang pencarian dan pemaknaan sosok pahlawan didalam realitas kehidupannya sudah melenceng dan tidak pas. Mereka tidak menyadari bahwa bapak dan ibunya lah sebenarnya sosok pahlawan tersebut. 
Akibat kesalahan arti tersebut, waktu yang dimiliki anak – anak lebih sering ditujukan kepada ‘pahlawan’ idolanya di TV dari pada kepada orang tuanya, selama 24 jam dalam sehari mungkin hanya beberapa jam eksistensi anak kepada orang tuanya, selebihnya untuk TV dan tidur pada waktu malam hari. 
Memberi pengertian dan pengetahuan kepada anak – anak yang telah salah makna tentang sosok pahlawan di zaman seperti ini sangatlah penting, dengan tujuan agar anak – anak tahu bahwa mereka hidup sampai saat ini atas dasar jasa – jasa besar dari orang tuanya dan sebenarnya merekalah yang dicari sebagai sosok pahlawan dengan arti sebenarnya bagi kehidupannya. Jika kesadaran tersebut dapat muncul di setiap diri anak – anak karena stimulasi penyadaran yang selalu diberikan kepada anak, maka harapannya adalah tumbuhnya sifat asih dan mengasihi, sifat menghargai satu sama lain, sifat menghargai atas jasa – jasa orang tuanya dan tentunya tersedianya ‘pahlawan’ yang tepat untuk anak – anak, yaitu orang tuanya. 
Dengan demikian, orang tua tak perlu terlalu khawatir lagi tentang perubahan sifat anak – anaknya dalam fase pertumbuhan yang lebih cendrung dalam hal imitasi atau peniruan pada sosok – sosok pahlawan di TV, karena anak – anaknya terbangun kesadaran – kesadaran tersebut. 
Mikul duwur, mendem jero, pepatah jawa yang berorientasikan tentang harapan orang tua kepada kebaktian anak – anak mereka. Semoga bisa terwujud.


Salam,
Charis Rohman

Sabtu, 31 Agustus 2013

Memberi contoh baik kepada siswa untuk bersama melatih kejujuran

Pendidik itu ya mendidik ya mengajar, memberi contoh yang baik untuk ditiru murid dengan baik, begitu juga sebaliknya jika guru memberi contoh yang tidak baik, maka tentu juga murid akan menirunya tidak baik juga.
Pada gambar diatas di sebuah even 'Kemah Budaya dan Nonton Bareng Film Pendidikan' yang dilaksanakan pada tanggal 26 Pebruari 2011 di halaman MI NU Islamiyah Gamong Kaliwungu Kudus tahun lalu, terlihat seorang guru yang sebetulnya bukan berarti 'membantu' mendirikan tenda, namun disini lebih menekankan pada 'memberi contoh' mendirikan tenda kepada siswanya.
Hal ini memang sesuai dengan sistem dasar pendidikan pada tahun ini yang menekankan pada ilmu - ilmu praktik. Tidak hanya ilmu - ilmu teoritis.
Sedangkan pada gambar ini, kami sama - sama belajar menanamkan 'kejujuran' dengan membuka Wajur: Warung Jujur. Siswa bahkan guru - gurunya sekalipun menjadi pembeli juga menjadi penjual, sebuah latihan kejujuran yang harus selalu dilatih terus menerus dan ditanamkan didalam hati sebagai kebutuhan dan idealisme.